PERKEMBANGAN INDUSTRI TEKSTIL BERBANDING TERBALIK DENGAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN

Yusuf Iskandarsyah (30409895)

3id05

1.         PENDAHULUAN
            Lingkungan dan kegiatan di industri merupakan serangkaian hal yang tidak dapat dipisahkan, walaupun pada kenyataannya kedua hal tersebut melakukan simbiosis parasitisme. Lingkungan menyediakan beberapa sumber daya alam bagi kegiatan industri secara gratis, tetapi kegiatan industri biasanya merusak lingkungan yang ada disekitarnya. Hal tersebut justru sangat merugikan satu pihak saja, yaitu lingkungan.
            Kesadaran bahwa lingkungan merupakan hal yang penting, mulai diterapkan oleh beberapa pelaku industri di Indonesia. Tidak hanya pelaku industri, melainkan pemerintah juga turut andil dalam penanganan mengenai masalah lingkungan. Pemerintah Negara Indonesia membuat suatu peraturan baru untuk mengatasi masalah tersebut, salah satunya yaitu AMDAL. Peraturan tersebut kemudian menjadi syarat yang wajib ada bagi perusahaan yang akan mendirikan pabrik barunya.
            Seperti yang dikemukakan oleh Bakohumas (2012), bahwa industri tekstil di Indonesia terus berkembang. Jika dilihat dari dunia fashion yang terus berinovasi menampilkan suatu tren yang baru diseluruh dunia, maka tidak heran kalau hal tersebut berdampak pula pada perkembangan industri tekstil. Bandung misalnya, memiliki banyak sekali distro yang berjajar di sepanjang jalan Ciampelas. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat penduduk Indonesia akan produk tekstil sangatlah tinggi. Namun kebanyakan industri tekstil yang ada, tidak baik dalam hal penanganan hasil produk samping yang dihasilkan. Produk samping yang dimaksud yaitu limbah hasil proses produksi yang dilakukan. Limbah cair yang berasal dari pewarna tekstil biasanya langsung dibuang tanpa diolah terlebih dahulu ke sungai. Hal ini tentunya akan mencemari sungai yang ada, dikarenakan terdapat unsur-unsur pewarna tekstil yang mengandung senyawa benzene. Turunan dengan senyawa tersebut, tentunya dapat mencemari lingkungan dan merugikan manusia. Oleh karena itu, penanganan hasil produk samping industri tekstil harus sejalan dengan pengetahuan lingkungan.
2.         TINJAUAN PUSTAKA
            Pengertian tentang mutu lingkungan sangatlah penting, karena merupakan dasar pedoman untuk mencapai tujuan pengelolaan lingkungan. Bicara mengenai lingkungan pada dasarnya adalah berbicara mengenai mutu lingkungan. Namun dalam hal itu apa yang dimaksud dengan mutu lingkungan tidaklah jelas, karena tidak diuraikan secara eksplisit. Mutu lingkungan hanyalah dikaitkan dengan masalah lingkungan, misalnya pencemaran, erosi, dan banjir. Dengan kata lain mutu lingkungan itu diuraikan secara negatif, yaitu apa yang tidak kita kehendaki, seperti air tercemar. Agar kita dapat mengelola lingkungan dengan baik, kita tidak saja perlu mengetahui apa yang tidak kita kehendaki, melainkan juga apa yang kita kehendaki. Dengan demikian kita dapat mengetahui kearah mana lingkungan itu ingin kita kembangkan untuk mendapatkan mutu yang kita kehendaki (Santoso, 1999).
            Pada proses produksinya, industri tekstil tidak terlepas dari yang namanya zat warna. Zat tersebut tentunya sangat berguna untuk memberikan nilai estetika tersendiri bagi tekstil yang nantinya akan dihasilkan.
            Jenis zat warna yang paling banyak digunakan oleh industri adalah zat warna reaktif dan zat warna dispersi. Hal tersebut digunakan karena bahan tekstil yang biasa dipakai terbuat dari serat sintetik polyester, sehingga untuk pewarnaan hanya dapat dicelup dengan zat warna dispersi. Sementara zat warna reaktif biasa untuk mewarnai kapas. Salah satu jenis zat warna reaktif yaitu zat warna azo yang merupakan jenis zat warna sistetis yang cukup penting. Lebih dari 50% zat warna dalam daftar Color Index adalah jenis zat warna azo (Manurung, 2004).
            Pencemaran lingkungan akibat industri tekstil adalah berupa pencemaran debu yang dihasilkan penggunaan mesin berkecepatan tinggi dan limbah cair yang berasal dari tumpahan dan air cucian tempat pencelupan larutan kanji dan proses pewarnaan. Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkajian, penghilangan kanji, penggelantangan, merseriasi, pewarnaan, percetakan dan proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan kapas menghasilkan limbah yang lebih banyak daripada limbah dari proses penyempurnaan bahan sintesi (Manurung, 2004).
            Seperti yang dikemukakan oleh Suhendra (2013), bahwa daerah Majalaya adalah salah satu sentra industri tekstil di provinsi Jawa Barat yang mayoritas industri tekstil menghasilkan air limbah berlokasi. Air limbah yang dihasilkan dibuang ke sungai Citarum Hulu. Proses pencelupan dan pencapan dalam industri tekstil menghasilkan air limbah yang mengandung sisa pewarna tekstil. Pewarna tekstil yang paling banyak digunakan adalah pewarna azo. Biodegradasi azo oleh bakteri pada kondisi anaerobik menghasilkan berbagai senyawa anilin sebagai produk metabolit, diantaranya adalah kloroanilin yang bersifat persisten, karsinogenik, dan mutagenik. Hasil analisis total anilin pada sampel air limbah tekstil di Keceamatan Majalaya setelah mengalami biodegradasi anaerobik oleh bakteri menunjukkan keberadaan total anilin tertinggi sebesar 14,46 mg/l, dan total anilin tertinggi sampel air pada sungai Citarum Hulu di Kecamatan Majalaya sebesar 3,58 mg/l. Di ujung Sungai Citarum Hulu, terdapat total anilin tertinggi sebesar 1,825 mg/l pada endapan/sedimen sungai. Sedangkan hasil analisis kloroanilin menunjukkan pada sampel air limbah tekstil di Kecamatan Majalaya setelah mengalami biodegradasi anaerobik oleh bakteri menunjukkan keberadaan 2-kloroanilin (2-CA) tertinggi sebesar 25,97 µg/l dan 4-CA tertinggi sebesar 153,00 µg/l, dan pada sampel air sungai Citarum Hulu di Kecamatan Majalaya didapatkan 2-CA tertinggi sebesar 6,87 µg/l dan 4-CA tertinggi sebesar 9,06 µg/l. Di ujung sungai Citarum Hulu, didapatkan 4-CA pada sedimen sungai sebesar 5,05 µg/l. Keberadaan total anilin dan kloroanilin baik pada air limbah tekstil dan air sungai Citarum Hulu di Kecamatan Majalaya maupun pada sedimen sungai di ujung sungai Citarum Hulu merupakan indikasi terjadinya biodegradasi azo dari air limbah tekstil secara anaerobik.
Tujuan peningkatan kesadaran lingkungan ialah, memasyarakatkan lingkungan hidup, jadi bukan sekedar menanamkan pengertian masyarakat kepada permasalahannya saja. Tetapi terutama membangkitkan partisipasi untuk ikut memelihara kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Yang diperlukan adala masyarakat yang aktif mengawasi lingkungan hidup, di samping menjaga lingkungan sendiri secara langsung (Santoso, 1999).
Peningkatan kesadaran sebagaimana juga semua usaha yang menyangkut lingkungan hidup harus berpacu dengan waktu sebab peruskan-perusakan masih terus berlanjut dan meningkat. Karena daya terbatas dan sarana yang khusus ini tidak ada, usaha dilakukan melalui sarana informasi yang telah ada dan terutama diarahkan kepada lembaga–lembaga dan kelompok–kelompok masyarakat yang strategis (Santoso, 1999).
Oleh karena terjadi suatu peningkatan usaha pembangunan maka akan terjadi pula peningkatan penggunaan sumber daya untuk menyokong pembangunan dan timbulnya permasalahan–permasalahan dan lingkungan hidup manusia. Dalam pembangunan, sumber daya alam merupakan komponen yang penting dimana sumber daya ala mini memberikan kebutuhan azasi bagi kehidupan. Dalam pembangunan sumber alam tadi, hendaknya keseimbangan ekosistem tetap terpelihara. Seringkali karena menigkatnya kebutuhan akan hasil proyek pembangunan, keseimbanganini bisa terganggu, yang kadang–kadang bisa membahayakan kehidupan umat manusia. Proses pembangunan mempunyai akibat–akibat yang lebih luas terhadaplingkungan hidup manusia, baik akibat langsun maupun akibat sampiingan seperti pengurangan sumber kekayaan alam secara kuantitatif dan kualitatif, pencemaran biologis, pencemaran kimiawi, gangguan fisik dan gangguan sosial–budaya (Santoso, 1999).
3.         KESIMPULAN
            Perkembangan industri tekstik berbanding terbalik pengetahuan lingkungan. Hal tersebut dapat dilihat pada sungai citarum yang tercemaroleh limbah tekstil seperti yang dikemukakan oleh Edward Suhendra (2013). Limbah tersebut pula juga akan mengakibatkan pada rusaknya ekosistem di bawah sungai dan menimbulkan tumbuhan eceng gondok. Efek lain yang akan ditimbulkan bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi manusia yang berada dalam lingkungan yang tercemar tersebut. Manusia yang mengkonsumsi air dari sungai yang tercemar juga akan mendapatkan penyakit kulit, seperti gatal. Sebenarnya, seluruh industri tekstil membutuhkan pengetahuan mengenai lingkungan. Oleh karena itu, penanganan hasil produk samping akan lebih baik lagi.
Bakohumas. 2012. Kemenperin: Industri Tekstil Terus Berkembang di Indonesia. http://bakohumas.kominfo.go.id/news.php?id=1115
Christian, Handy dkk. 2007. Kemampuan Pengolahan Warna Limbah Tekstil oleh Berbagai Jenis Fungi dalam Suatu Bioreaktor. http://ppprodtk.fti.itb.ac.id/tjandra/wp-content/uploads/2010/04/Publikasi-no-88.pdf. Institut Teknologi Sepuluh November
Manurung, Renita dkk. 2004. Perombakan Zat Warna Azo Reaktif Secara Anaerob – Aerob. http://library.usu.ac.id/download/ft/tkimia-renita2.pdf. Universitas Sumatera Utara
Santoso, Budi. 1999. Ilmu Lingkungan Industri. Jakarta: Gunadarma

Suhendra, Edward. 2013. Potensi Keberadaan Kloroanilin Sebagai Zat Pencemar Akibat Air Limbah Industri Tekstil di Sungai Citarum Hulu.http://eprints.undip.ac.id/41996. Universitas Dipenogoro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: