FTC, TSP, dan ARD

2.1.      Pengertian FTC, TSP, dan ARD

From To Chart kadang-kadang disebut pula sebagai trip frekuensi chart atau travel chart yaitu suatu teknik konvensional yang umum digunakan untuk perencanaan tata letak pabrik dan pemindahan bahan dalam suatu proses produksi. Teknik ini sangat berguna untuk kondisi-kondisi dimana banyak item yang mengalir melalui suatu area seperti job shop, engkel pemesinan, kantor dan lain-lain.

From To Chart (FTC) merupakan penggambaran tentang beberapa total OMH dari suatu bagian aktivitas dalam pabrik menuju pabrik lainnya. Sehingga dari peta ini dapat dilihat ongkos material handling secara keseluruhan, mulai dari gudang bahan baku (Receiving) menuju pabrikasi, Assembling dan terakhir gudang barang jadi (Shipping). Cara pengisian From To Chart (FTC) adalah sebagai berikut:

  1. Perhatikan total ongkos dari tabel OMH, kemudian masukan nilai total ongkos tersebut disesuaikan dengan pengangkutan bahan dari satu tempat ke tempat lainnya.
  2. Jumlah total ongkos setiap baris dan setiap kolom juga total ongkos secara keseluruhan.

 

2.2.1    Outflow Dan Inflow

Outflow digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang keluar dari suatu departemen ke departemen lainnya. Inflow digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang masuk ke suatu departemen ke departemen lainnya. Outflow dan inflow digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang terjadi pada mesin yang bersangkutan yang merupakan koefisien ongkos keluar dan masuk dan didapatkan berdasarkan OMH yang diketahui.

 Referensi perhitungan outflow dan inflow yaitu dari OMH dan FTC, yaitu ongkos yang dibutuhkan untuk material handling dari suatu mesin ke mesin lainnya dan sebaliknya. Referensi perhitungan inflow-outflow dari OMH dan FTC, yaitu ongkos yang dibutuhkan untuk material handling dari satu mesin ke mesin lainnya dan sebaliknya. Perhitungan sebagai berikut:

Out Flow  =     Ongkos di mesin M : ongkos yang keluar dari mesin M

In Flow    =     Ongkos di mesin M : ongkos yang keluar ke mesin M

 

Gambar 2.10. InflowOutflow

 

2.2.2    Tabel Skala Prioritas

Tabel skala prioritas (TSP) adalah suatu tabel yang menggambarkan urutan prioritas antar departemen/mesin dalam suatu lintas/lay out produksi dimana urutan prioritas antar departemen tersebut merupakan urutan yang sebenarnya yang didapat dari hasil outflow revisi. Referensi TSP didapat dari perhitungan outflow-inflow, dimana prioritas diurutkan berdasarkan harga koefisien ongkosnya.Tujuan pembuatan TSP adalah:

  1. Untuk meminimimkan ongkos.
  2. Untuk mengoptimalkan lay out.
  3. Untuk memperkecil jarak handling.

Ongkos dengan harga koefisien terbesar menjadi prioritas utama dan seterusnya sampai harga koefisien terkecil dan jumlah prioritas ditentukan berdasarkan banyaknya frekuensi yang masuk ke salah satu departemen. Perlu diketahui bahwa skala prioritas yang diutamakan pada penyusunan tata letak ini adalah skala prioritas 1.

 

 

 

Departemen

Kode

Prioritas

I

II

III

IV

Departemen A

 

 

 

 

 

Departemen B

 

 

 

 

 

Departemen C

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

Shipping

 

 

 

 

 

Tabel 2.5. Contoh bentuk Tabel Skala Prioritas (TSP)

 

2.2.3    ACTIVITY RELATIONSHIP DIAGRAM (ARD)

ARD adalah menerapkan hasil dari TSP ke dalam suatu diagram untuk menyusun tingkat kedekatan berdasarkan prioritas yang telah dibuat. Dari persoalan diatas :

 

2.2.4    ACTIVITY RELATIONSHIP CHART (ARC)

Dalam industri pada umumnya terdapat sejumlah kegiatan atau aktivitas yang menunjang jalannya suatu industri. Setiap kegiatan atau aktivitas tersebut saling berhubungan (berinteraksi) antara satu dengan lainnya, dan yang paling penting diketahui bahwa setiap kegiatan tersebut membutuhkan tempat untuk melaksanakannya. Aktifitas atau kegiatan tersebut diatas dapat berupa aktivitas produksi, administrasi, assembling, inventory, dll.

Sebagaimana diketahui diatas bahwa setiap kegiatan atau aktifitas tersebut saling berhubungan antara satu dengan lainnya ditinjau dari beberapa kriteria, maka dalam perencanaan tata letak pabrik harus dilakukan penganalisaan yang optimal. Teknik yang digunakan sebagai alat untuk menganalisa hubungan antar aktifitas yang ada adalah Activity Relationship Chart. Teknik penganalisaan menggunakan ARC dikemukakan oleh Richard Muthe, adalah sebagai berikut :

 

  1. Hubungan antar aktifitas ditunjukkan dengan tingkat kepentingan hubungan antar aktifitas tersebut yang dikonversikan dalam bentuk huruf, sebagai berikut :

 

No.

TINGKAT KEPENTINGAN

KODE

WARNA

1

MUTLAK  PENTING

A

MERAH

2

PENTING  TERTENTU

E

KUNING

3

PENTING

I

HIJAU

4

BIASA

O

BIRU

5

TIDAK   PENTING

U

PUTIH

6

TIDAK  DIINGINKAN

X

COKLAT

 

  1. Alasan untuk menyatakan tingkat kepentingan tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Menggunakan catatan yang sama.
    2. Menggunakan personil yang sama.
    3. Menggunakan ruang yang sama.
    4. Tingkat hubungan personil.
    5. Tingkat hubungan kertas kerja.
    6. Urutan aliran kertas.
    7. Melakukan aliran kerja yang sama.
    8. Menggunakan peralatan dan fasilitas yang sama.
    9. Ribut, kotor, getaran, debu, dan lain-lain.
    10. Lain-lain yang mungkin perlu.

 

2.2.5    AREA ALOCATION DIAGRAM (AAD)

Area Alocation Diagram merupakan lanjutan dari ARC. Dimana dalam ARC telah diketahui kesimpulan tingkat kepentingan antar aktivitas dengan demikian berarti bahwa ada sebagian aktivitas harus dekat dengan aktivitas yang lainnya dan ada juga sebaliknya. Atau dapat dikatakan bahwa hubungan antar aktivitas mempengaruhi tingkat kedekatan antar tata letak aktivitas tersebut. Kedekatan tata letak aktivitas tersebut ditentukan dalam bentuk Area Alocation Diagram. Adapun dasar pertimbangan dalam prosedur pengaloaksian area ini adalah sebagai berikut :

  1. Aliran produksi, material, peralatan
  2. ARC, informasi aliran, aliran personil, hubungan fisikal
  3. Tempat yang dibutuhkan
  4. ARD

AAD ini merupakan lanjutan penganalisaan tata letak setelah ARC, maka sesuai dengan persoalan ARC diatas maka dapat dibuat AAD-nya. AAD merupakan Template secara global informasi yang dapat dilihat hanya pemanfaatan area saja, sedangkan gambar visualisasi secara lengkap dapat dilihat pada template yang merupakan hasil akhir dari penganalisaan dan perencanaan tata letak pabrik.

 

2.2.6    Ukuran Jarak

Untuk menghitung jarak antar departemen ada beberapa macam sistem yang dipergunakan untuk melakukan pengukuran jarak suatu lokasi terhadap lokasi lain, antara euclidean, square euclidean, rectilinear, asile distance, adjacency dan sebagainya.

 

2.2.7    Jarak Euclidean

Jarak euclidean merupakan jarak yang diukur lurus antara pusat fasilitas satu dengan pusat fasilitas lainnya. Sistem pengukuran dengan jarak euclidean sering digunakan karena lebih mudah dimengerti dan mudah digunakan. Contoh aplikasi dari jarak euclidean misalnya pada beberapa model conveyor, dan juga jaringan transportasi dan distribusi. Untuk menentukan jarak euclidean fasilitas satu dengan fasilitas lainnya menggunakan formula sebagai berikut.

dij = [(xi – xj)2 + (yi – yj)2]1/2 ………………………… (2.1)

Di mana:          Xi = koordinat x pada pusat fasilitas i

Yi = koordinat y pada pusat fasilitas i

dij = jarak antara pusat fasilitas i dan j

Perhitungan jarak euclidean antara i dan j seperti pada gambar 2.5 adalah sebagai berikut:

dij = [(1 – 4)2 + (3 – 1)2]1/2 = 3,6

 

Gambar 2.5 Jarak euclidean

 

2.2.8    Jarak Rectilinear

Jarak rectilinear sering juga disebut dengan Jarak Manhattan, merupakan jarak yang diukur mengikuti jalur tegak lurus. Disebut dengan Jarak Manhattan, mengingatkan jalan-jalan di kota Manhattan yang membentuk garis-garis paralel dan saling tegak lurus antara satu jalan dengan jalan lainnya. Pengukuran dengan jarak rectilinear sering digunakan karena mudah perhitungannya, mudah dimengerti dan untuk beberapa masalah lebih sesuai, misalkan untuk menentukan jarak antar kota, jarak antar fasilitas di mana peralatan pemindahan bahan hanya dapat bergerak secara lurus. Dalam pengkuran jarak rectilinear digunakan notasi sebagai berikut:

dij = |xi – xj| + |yi + yj| …………………………… (2.2)

Ukuran jarak rectilinear digambarkan berikut ini.

 

Gambar 2.6 Jarak rectilinear

 

Dari gambar 2.6 jarak antara i dan j adalah sebagai berikut:

dij = |1 – 4| + |3 – 1| = 5

 

2.2.9    Square Euclidean

Sebagaimana namanya, square euclidean merupakan ukuran jarak dengan mengkuadratkan bobot terbesar suatu jarak antara dua fasilitas yang berdekatan. Relatif untuk beberapa persoalan terutama menyangkut persoalan lokasi fasilitas diselesaikan dengan penerapan square euclidean. Formula yang digunakan dalam square euclidean:

dij = [(xi – xj)2 + (yi – yj)2] ……………………….. (2.3)

 

2.2.10  Aisle

Ukuran jarak aisle sangat berbeda dengan ukuran jarak seperti dikemukakan di muka. Aisle distance akan mengukur jarak sepanjang lintasan yang dilalui alat pengangkut pemindah bahan. Dari gambar 2.7 (a) ukuran jarak aisle antara departemen K dan M merupakan jumlah dari a, b dan d. Sedang gambar 2.7 (b) jarak aisle departemen 1 dengan departemen 3 merupakan jumlah dari a, c, f dan h. Aisle distance pertama kali diaplikasikan pada masalah tata letak dari proses manufaktur.

 

Gambar 2.7 Jarak untuk aisle

 

2.2.11  Adjacency

Adjacency merupakan ukuran kedekatan antara fasilitas-fasilitas atau departemen-departemen yang terdapat dalam suatu perusahaan. Dalam perancangan tata letak dengan metode SLP, sering digunakan ukuran adjacency yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kedekatan antara departemen satu dengan departemen lainnya.

Kelemahan ukuran jarak adjacency adalah tidak dapat memberi perbedaan secara riil jika terdapat dua pasang fasilitas di mana satu dengan lainnya tidak berdekatan.Sebagai contoh (gambar 2.8) jarak antara departemen K dan departemen N yang tidak saling berdekatan berjarak 40 m, dan jarak antara departemen M dan departemen N yang berjarak 75 m, hal ini bukan berarti antara departemen K dan departemen N mempunyai tingkat kedekatan yang lebih tinggi.

Dalam hal ini kedua-duanya baik dkn (tingkat kedekatan departemen K dan N) dan dmn (tingkat kedekatan departemen M dan N) dalam adjacency akan sama-sama diberi nilai 0. Sebaliknya meskipun departemen M dan departemen N masing-masing jika diukur dengan jarak rectilinear maupun jarak euclidean sama dengan departemen L, bukan berarti mempunyai nilai adjacency yang sama.

Bisa saja antara departemen M dan departemen L mempunyai jarak adjacency yang lebih dibandingkan jarak adjacency antara departemen N dan departemen L. Misalkan antara departemen M dan L nilai adjacency sebesar 3, sedang antara departemen N dan L nilai adjacency sebesar 1.

 

Gambar 2.8 Adjacency distance

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Wignjosoebroto, Sritomo. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Edisi Ketiga. Surabaya: Prima Printing. Cetakan Ke 3 Tahun 2003

            Apple,  James M. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Edisi Ketiga. Bandung:  ITB. 1990

            Assauri, Sofyan. Manajemen Produksi. Lembaga Penerbit FE UI. Jakarta: 1980

http://elib. unikom. ac. id).

http://elib. Binus. ac. id).

http: // pksm. Mercubuana.ac.id)

 

 

3 Tanggapan to “FTC, TSP, dan ARD”

  1. Mackenzie Says:

    Brilliant… honestly enjoyed everything you outlined

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: